
Mengapa?
Karena aku adalah buku.
Kita semua adalah 'buku'. Sebuah buku yang menyimpan rapat-rapat mengenai siapa kita, apa yang sudah kita lakukan dan juga impian-impian yang ingin kita lakukan. Kehidupan kita seperti tulisan-tulisan didalam buku. Bila kita membacanya, berarti kita sedang membaca kehidupan seseorang. Mengikutinya bepergian, mengikutinya lulus sekolah, lulus kuliah, kemudian bekerja dan menikah. Tapi apakah itu akan berhenti disitu saja? Tidak.
Aku punya banyak 'buku' dalam kehidupanku. Aku punya 'buku' dari setiap orang yang selalu kusimpan dengan baik didalam lemari-lemari neuron otakku. Orang-orang yang berkunang-kunang di sekitarku dan mengena dihatiku pasti menorehkan goresan tulisan kehidupan mereka di dalam lembaran-lembaran papyrus di dalam hatiku yang selalu siap sedia menerima semua canda dan tawa, lalu menampungnya seperti wadah penampung air tetesan hujan. Dan lembaran papyrus itu akan beterbangan menuju lemari yang tepat untuk menyimpannya.
Dari setiap buku yang kita baca, kita seperti berlari dari bab ke bab lainnya. Bila kita menyudahi sebuah bab dan itu merupakan bab terakhir dari sebuah cerita, kita pun akan merasa bersemangat untuk mengetahui akhir dari cerita tersebut. Tapi kitapun bisa merasa sedih karena cerita itu sudah akan berakhir dan tidak bisa menemani kita lagi di masa kita.
Ada sebuah bab di dalam salah satu 'buku'ku yang sudah dipastikan tidak akan ada kelanjutannya karena ceritanya harus berakhir dan tanda titik di akhir kalimat adalah benar-benar sebuah titik yang mengakhiri sebuah cerita. Period. Setelah mengarungi perjalanan dan menorehkan banyak tulisan..kini sudah berakhir sepenggal kisah. Lalu dengan perlahan kututup 'buku'nya, menyegelnya dengan seksama dan penuh air mata, berakhir pula ceritaku dengannya.
~picturen taken from www.photobucket.com
No comments:
Post a Comment