Wednesday, September 10, 2008

08.09.08


When I opened up my eyes today
Felt the sun shining on my face

It became so clear to me that everything is going my way

I feel like there's no limit to what I can see
Got rid of fears that were holding me

My endless possibilities
Has the whole world opened for me
That's why I'm feeling...

.Audeevera. 08.09.08.


~olivia : feelin' so good


Friday, September 05, 2008

a book

Siapa sih yang gak tau apa itu buku? Kalau menurutku, Buku adalah sesuatu yang selalu saja bisa membawaku ke dunia yang tidak biasa, dunia dalam imajinasiku. Melihat buku dengan tebal ratusan halaman membuatku tertantang dan bersemangat untuk dapat mengetahui khayalan apa lagi yang bisa kulalui. Begitu pula dengan buku tulis, melihatnya saja sudah membuatku tak sabar untuk kugoresi dengan tulisan-tulisan kosongku. Akupun merasa tertarik seperti lebah mengagumi madu yang terdapat di bunga. Karena itupun, toko buku adalah tempat dimana aku merasa senang dan merasakan menjadi bagian dari buku-buku...

Mengapa?
Karena aku adalah buku.


Kita semua adalah 'buku'. Sebuah buku yang menyimpan rapat-rapat mengenai siapa kita, apa yang sudah kita lakukan dan juga impian-impian yang ingin kita lakukan. Kehidupan kita seperti tulisan-tulisan didalam buku. Bila kita membacanya, berarti kita sedang membaca kehidupan seseorang. Mengikutinya bepergian, mengikutinya lulus sekolah, lulus kuliah, kemudian bekerja dan menikah. Tapi apakah itu akan berhenti disitu saja? Tidak.

Aku punya banyak 'buku' dalam kehidupanku. Aku punya 'buku' dari setiap orang yang selalu kusimpan dengan baik didalam lemari-lemari neuron otakku. Orang-orang yang berkunang-kunang di sekitarku dan mengena dihatiku pasti menorehkan goresan tulisan kehidupan mereka di dalam lembaran-lembaran papyrus di dalam hatiku yang selalu siap sedia menerima semua canda dan tawa, lalu menampungnya seperti wadah penampung air tetesan hujan. Dan lembaran papyrus itu akan beterbangan menuju lemari yang tepat untuk menyimpannya.

Dari setiap buku yang kita baca, kita seperti berlari dari bab ke bab lainnya. Bila kita menyudahi sebuah bab dan itu merupakan bab terakhir dari sebuah cerita, kita pun akan merasa bersemangat untuk mengetahui akhir dari cerita tersebut. Tapi kitapun bisa merasa sedih karena cerita itu sudah akan berakhir dan tidak bisa menemani kita lagi di masa kita.

Ada sebuah bab di dalam salah satu 'buku'ku yang sudah dipastikan tidak akan ada kelanjutannya karena ceritanya harus berakhir dan tanda titik di akhir kalimat adalah benar-benar sebuah titik yang mengakhiri sebuah cerita. Period. Setelah mengarungi perjalanan dan menorehkan banyak tulisan..kini sudah berakhir sepenggal kisah. Lalu dengan perlahan kututup 'buku'nya, menyegelnya dengan seksama dan penuh air mata, berakhir pula ceritaku dengannya.

~picturen taken from www.photobucket.com

Thursday, September 04, 2008

Menerima

Menerima adalah hal yang gampang-gampang sulit untuk dilakukan.
Ketika kita kecil dan diberi uang untuk jajan oleh orang tua kita, maka kita dengan mudah akan menerimanya dengan senang hati dan akan membelanjakannya dengan sepenuh hati.

Tapi apa jadinya kalau kita harus menerima suatu keadaan yang sangat tidak mengenakkan? Apakah kita akan tetap menerima itu dengan tangan terbuka dan hati lapang? Mungkin jawabannya akan tidak.

Keadaan inilah yang saat ini sedang membayangiku seperti awan hitam yang sedang menggantung di kota Jakarta pagi ini.

Menerima.

Suatu kata yang sedang memenuhi seluruh pikiranku dan kuanalisis dengan segenap jiwa. Meresap hingga ke setiap butir tinta yang menoreh di pikiranku bak sepucuk kertas kosong. Kenyataan hidup yang sedang kujalani ini merupakah salah satu perjalanan ku diatas dunia ini.

Terkadang sulit, namun terkadang sangat mudah untuk dilakukan. Tapi apapun keadaannya,kita semua harus menerimanya. Karena itu adalah hidup kita yang tengah kita jalani. Baik atau buruk, itu semua ada konsekuensinya. Apakah akan membuat kita semakin baik atau semakin buruk, tergantung bagaimana kita menerima keadaan itu sendiri.

Mungkin tidaklah semudah itu untuk menerima keadaan yang menyakitkan hati. Ya, siapapun di seluruh dunia ini pasti akan menggangguk tanpa ragu. Tapi meskipun begitu, bagaimana caranya kita menerima adalah contoh dari kedewasaan setiap insan.

Dan aku sadar, bahwa saat ini adalah saatnya untuk menerima. Menerima kenyataan bahwa daun-daun sakura yang kutitipkan dihatinya sudah gugur seiring kepergiannya.

some pics

some pics from my surprise birthday party:


*yay! my birthday cake!* *u want?*



*argh! kena jailan deh!* *my frenz at that nite!*

Makasih ya guyyyss!!! bener2 gak nyangka dan menyenangkan sekaliiyy!! hihihi.. *muach!*


~all photos by audi ramzi